1. Permasalahan dimulai dari hubungan kemitraan Inti Plasma yang tidak adil dan sikap perusahaan Inti (PT CPB) yang arogan, birokrasi pemerintahan daerah yang lamban dan hany­­­­a memperhatikan informasi sepihak serta  tidak adil dalam mengambil sebuah kebijakan.

2. Pada tanggal 11 Maret 2013 sekitar Jam 20.00 wib, 25 orang petambak plasma yang tergabung dalam Organisasi Forsil,termasuk di dalamnya ketua umum forsil dan beberapa pengurus menghadiri pengajian yang diadakan di kampung Penyangga yaitu kampung Pasiran Jaya. Setelah usai pengajian sekitar pukul 00.30 ketika rombongan tersebut hendak pulang, mereka dihadang oleh orang-orang yang tidak jelas di pintu masuk wilayah pertambakan dan tidak diperbolehkan masuk untuk kembali ke rumah masing-masing. Akhirnya rombongan kembali ke kampung Pasiran Jaya, tetapi ketika berbalik rombongan dilempari batu oleh sekelompok orang yang berada di kegelapan. Rombongan kemudian memutuskan menginap dirumah seorang warga di kampung tersebut.

3. Keesokan harinya tanggal 12 Maret 2013, rumah tempat menginap rombongan tersebut dikepung dan dilempari oleh sekitar 50an orang yang disinyalir adalah preman yang dikoordinir dan dibayar oleh perusahaan. Sementara itu pada waktu yang sama massa yang terdiri dari kelompok P2K,karyawan perusahaan, dan sejumlah orang yang berasal dari luar wilayah pertambakan berkumpul di persimpangan cold storage dan persimpangan PLO,di mana di tempat tersebut beberapa waktu yang lalu telah dibangun pos penjagaan yang digunakan sebagai tempat berkumpul P2K dan karyawan Perusahaan. Pihak Perusahaan telah menutup jalan lain untuk menuju arah kampung Bratasena Adiwarna dengan membuat tanggul tanah dengan menggunakan exavator.

4. Sekitar jam 10.00 Wib,  aparat kepolisian dari Polsek mendatangi rumah tempat menginap rombongan. Kemudian sekitar jam 11.00 Wib datang pula 7 intel dari Polres Tulang Bawang. Sementara itu Petambak Plasma yang tergabung dalam Organisasi Forsil tidak dapat menerima atas pengepungan ketua, beberapa pengurus dan anggota mereka itu. Kemudian seluruh plasma yang tergabung dalam organisasi tersebut segera berkumpul untuk membebaskan ketua dan rombongan itu. Karena aparat kepolisian tidak dapat membawa rombongan tersebut kembali masuk ke wilayah pertambakan,maka angota-anggota Forsil yang berasal dari Kampung Bratasena Mandiri dihadang oleh massa preman bayaran perusahaan di perempatan PLO dan massa Forsil dari Bratasena Adiwarna dihadang di perempatan Cold storage. Sebelumnya kelompok orang-orang perusahaan yang ada di perempatan Cold storage memprovokasi massa Forsil yang berjarak sekitar 1 kilo meter, tetapi kemudian mundur kembali.

5. Dua Kelompok yang berlawanan saling berhadapan, aparat kepolisian dan TNI yang disiapkan pihak perusahaan tidak dapat mengendalikan keadaan sehingga terjadi bentrok. Massa dari kelompok P2K Karyawan Perusahaan dan orang bayaran terdesak dan kabur.  Akibatnya beberapa kendaraan bermotor rusak dan beberapa orang terluka. Sementara massa Forsil dari Kampung Bratasena Mandiri bentrok dengan massa perusahaan yang disiapkan di perempatan PLO. Massa Forsil dari Bratasena Adiwarna kemudian menuju perempatan PLO untuk membantu massa Forsil dari kampung Bratasena Mandiri yang didesak dengan Exavator,dalam bentrok ini banyak yang terluka dan kemungkinan ada yang meninggal dunia.

***

Dilaporkan oleh Bibit, Divisi Hubungan Luar Forum Silaturahmi Petambak PT. Central Pertiwi Bahari Lampung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s